Terbilang sudah hari perpisahan Menunggu berbaris di alam hina berlafadzkan cacian Keberanian menjulang terasa lenyap tak berguna sudah Mata dan jiwa terlihat hina di bias cermin harta Menunggu berpantang maju di muka tahta Rasa takut menyelami dinding-dinding jiwa lemah Hanya iring-iringan keputusasaan dan penyesalan Nampak jelas, meluaskan samudera kebencian di dadaKu terlahir di tengah bani sriwijaya berparas Hanoman Buruk muka, miskin, hina berperangai khilafah Tak kuasa jelas mempersembahkanmu istana berlapis emas Nasib malang tlah membatasi kesanggupan menantang Tiada yang patut dipersalahkan dan dibela Jembatan takaran hidup terlanjur terbentang panjang melintasi buana Perlahan, menutupi keberadaan kebenaran cinta Hingga mengkaramkan muatan cinta suci umat manusia, hanya karena Rupiah! Telah ku pahami, ternyata inilah sosok Rupiah sebenarnya Perusak moral, pembaharu norma dan penghalang cinta Yang mampu menembus kekokohan iman, pendirian, bangsa, dan cinta Menerobos paksa celah-celah yang tertutupi daun tua Tahulah aku sekarang, dimana itu tahta tertinggi cinta Bersandar, bermahkotakan kehormatan berasaskan keangkuhan Qarun laknatullah Menutupkan mata di kedua telapak tangan mulia di mata dunia Memuja harta hingga rela meluluhlantakan pondasi cinta…..cinta ku pun punah begitu saja.
Sebenernya aku masih mencintaimu,tapi kenapa kau menghiraukanku.?
Setia Tuk Berharap
06.26 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar